Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Reka Yuda Mahardika, S.S., M.Pd.

Artikel Umum

10 Ciri yang Menandai Kehancuran Sebuah Bangsa (1)

Dipublikasikan pada : 26 Juli 2014. Kategori : .

Prof. Thomas Lickona, seorang akademisi penggiat pendidikan dari Universitas Cortland mengatakan, ada 10 ciri yang menandai kehancuran sebuah bangsa. Bila ciri-ciri tersebut tidak segera direduksi maka tunggulah kehancurannya. Berikut adalah ciri-ciri yang sengaja saya kaitkan dengan kondisi bangsa dewasa ini.

1. Meningkatnya kekerasan di kalangan remaja. Fakta menunjukkan, kekerasan berupa tawuran dan perkelahian antar kelompok lazim di lakukan di negeri yang konon katanya terkenal santun ini. Remaja seolah tidak pernah belajar bagaimana memecahkan konflik dengan logika dan musyawarah. Emosi selalu dikedepankan, sekadar saling senggol bahkan saling tatap maka bogem mentah adalah jawabannya.

2. Penggunaan bahasa dan kata-kata memburuk. Penggunaan bahasa macam taik, tolol, anjing, keparat, bodoh, dan sampah-serapah lainnya tampak wajar dituturkan para remaja. Dan ternyata ungkapan sampah serapah macam itu tidak hanya dikuasai remaja, malah orang dewasa pun doyan menggunakan kata-kata kaum “terbelakang” tersebut. Semoga Kompasianer semua dijauhkan dari penggunaan bahasa kasar macam itu. Amin.

3. Berkelompok demi mendapatkan kekuatan demi kekerasan. Dewasa ini perkelahian antar kelompok lazim dilakukan daripada perkelahian satu-satu yang “agaknya” lebih ksatria. Entah mengapa, budaya solidaritas dan kerjasama yang agung warisan nenek moyang malah dilakukan dalam hal negatif. Bahkan bermunculan kini kelompok-kelompok yang mengatasnamakan organisasi kepemudaan yang dikawatirkan menjadi pemicu kekerasan. Gang-gang merajalela, kelompok-kelompok tidak jelas tumbuh bak cendawan, dan lainnya.

4. Meningkatnya perilaku merusak diri. Konteks merusak diri seperti mabok, penggunaan narkoba, seks bebas, dan dosa-dosa lainnya akrab dan lazim ditemui di sekitar kita. Anehnya para pelaku malah bangga dengan kegiatan merusak diri tersebut. Saking bangganya, misalnya, ada kecenderungan seks bebas kini menjadi media komoditas eksistensi remaja dengan cara memvideo dan menyebarkannya melalui internet.

5. Semakin kaburnya pedoman moral baik dan buruk. Sesungguhnya, kurikulum kita mengajarkan perilal nilai-nilai agama dan pancasila sebagai tuntunan moral. Namun, kegiatan pembelajaran dewasa ini yang lebih mengedepankan aspek kognitif dibandingkan afektif menjadi kelemahannya. Pancasila dan agama hanya menjadi pelajaran hapalan, bukan pemaknaan. Pancasila dan agama semata-mata dipelajari demi kelulusan ujian, bukan pertumbuhan dan perbaikan karakter dan moral siswa

6. Bersambung….