Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Reka Yuda Mahardika, S.S., M.Pd.

Artikel Umum

Beranikah Anda Menjadi Seorang Intelektual?

Dipublikasikan pada : 26 Juli 2014. Kategori : .

Intelektual

Menurut KBBI, intelektual berarti cerdas, berakal, dan berpikiran jernih berdasarkan ilmu pengetahuan. Mempunyai kecerdasan tinggi, cendekiawan, totalitas pengertian terutama yg menyangkut pemikiran dan pemahaman.

Semua orang dapat menjadi seorang intelektual, tetapi tidak semua orang dapat menjalankan fungsi-fungsi seorang intelektual sejati. Lantas, seperti apakah intelektual sejati itu? Sebelum dijawab, ada baiknya saya mengemukakan dulu pembagian intelektual.

Yang pertama adalah intelektual professional. Intelektual profesional menurut Edward Said adalah intelektual yang mendalami hanya satu bidang saja. Intelektual profesional haruslah bijaksana dan tahu batas. Seorang intelektual bahasa, misalnya, memiliki pandangan bahwa ia hanya dapat berbicara sesuai dengan ijazah kebahasaan yang diberikan penguasa kepadanya. Bila ia diminta untuk berbicara misalnya tentang politik atau agama, ia akan menolak. Ia akan bertutur, “Maaf, itu bukan bidang saya.”.

Intelektual yang kedua adalah intelektual yang dikemukakan Gramsci, yakni intelektual tradisional seperti guru, ulama, dan lainnya. Intelektual jenis ini akan terus menerus melakukan hal yang sama dari generasi ke generasi. Guru, misalnya, akan terus melakukan fungsi intelektual seperti mengajar dari generasi ke generasi.

Keempat adalah intelektual “filsuf raja” seperti yang dituturkan Julien Benda. Intelektual jenis ini adalah intelektual ideal yang cinta akan ilmu pengetahuan atau seni lebih dari segalanya. Ia adalah sosok super cerdas dan berbudi luhur seperti para nabi, Newton, Plato, Aristoreles, dan filsuf serta ilmuwan besar lainnya. Edward W. Said mengatakan kalsifikasi intelektual model “filsuf raja” terlalu tinggi. Jarang ada sosok yang memiliki integritas intelektual ideal semacam ini.

Peran Intelektual

Berbicara mengenai intelektual adalah berbicara mengenai ilmu dan kebebasan. Julian Benda (1867-1956) dalam karyanya yang La Trahison des Clercs(Pengkhianatan Kaum Cendekiawan) menggambarkan cendekiawan yaitu semua orang yang kegiatan utamanya bukanlah mengejar tujuan-tujuan praktis, tetapi yang mencari kegembiraan dalam mengolah seni, ilmu atau renungan metafisik.

Edward menambahkan, pekerjaan seorang intelektual adalah mempertahankan negara dengan kewaspadaan, selalu sadar tugas untuk tidak membiarkan kebenaran diselewengkan. Dalam hal ini seorang intelektual berperan sebagai benteng akal sehat yang kritis terhadap kekuasaan. Seorang intelektual harus berpihak terhadap kelompok lemah yang tertindas. Bahkan karenanya, seorang intelektual selalu berada di antara kesendirian dan pengasingan.

Menurut Said, karakterisasi intelektual adalah sosok pengasingan dan marjinal. Seorang intelektual boleh memiliki dan loyal terhadap kelompoknya, meski demikian hal tersebut tidak akan menyurutkan jiwa kritisnya. Barangkali karena sifatnya yang kritis seperti itulah seorang intelektual kadang dicurigai sebagai seorang yang tidak loyal terhadap kelompok. Ia mudah dicurigai, bahkan tak jarang sering berhadapan langsung dengan kawan yang sebelumnya memiliki satu pemahaman dengannya.

Contohnya pemikir dan inteletual besar Indonesia seperti Bung Hatta yang memutuskan mundur sebagai wakil Bung Karno, karena saat itu Bung Karno semakin otoriter dan memitoskan dirinya sebagai “pemimpin revolusi”. Bung Hatta tidak ragu mengkritik Bung Karno dengan cara tersebut, padahal mereka berdua pada awalnya memiliki pemahaman yang sama bahkan bersahabat. Sjahrir, Moh. Roem, M. Natsir, adalah sosok-sosok intelektual juga yang karena kekritisannya dijebloskan penjara oleh Bung Karno saat itu.

Apakah pikiran harus dihentikan? Bila jawabannya “tidak”, maka seorang intelektual haruslah konsisten. Semua dogma, ideologi, bahkan agama tidak akan dapat menghentikan pemikiran seorang intelektual. Seorang intelektual tidak akan berhenti berpikir meski pemikirannya bertentangan dengan dogma atau kepercayaan yang harusnya ia yakini. Bila ia meyakini bahwa A adalah benar, maka dengan tegas ia akan mengatakan benar apapun resikonya, seperti dihujat, dicaci-maki, dikucilkan. Dosa besar seorang intelektual adalah bila ia mengetahui kebenaran, tetapi ia takut dan tidak mau mengungkapkan kebenaran tersebut.

Dalam hal agama dan keyakinan, terlepas dari pendapatnya yang “dianggap” menyimpang oleh sebagian masyarakat dan ulama, ada tokoh-tokoh muda intelektual seperti Ulil Absar Abdalla seorang tokoh JIL (Jaringan Islam Liberal) yang mengemukakan gagasan untuk menyegarkan kembali pemahaman Islam. Ia berpendapat jilbab adalah budaya, bukan syariat agama yang musti dilaksanakan oleh perempuan dewasa. Ia pun mengatakan bahwa menikah berlainan agama adalah halal. Bahkan ia berani mengemukakan pendapat yang membuat berang para ulama yaitu harus melakukan amandemen kembali tafsir Al-Quran disesuaikan dengan jaman yang terus berubah. Pendapat lainnya yang bertolak belakang dengan keyakinan umum para ulama dan masyarakat adalah seperti yang dikemukakan Prof. Siti Musdah Mulia. Ia berpendapat bahwa lesbian dan homo itu adalah halal. Sebaliknya, ia mengatakan poligami itu haram.

Seorang intelektual tidak terikat primordialisme dan agama. Seorang intelektual Muslim haruslah kritis melihat ketidakadilan yang menimpa bangsa Non Muslim seperti yang terjadi di Timor-Timur, Ethiopia, dan lainnya. Pun sebaliknya, intelektual Kristen harus pula kritis melihat tragedi yang menimpa bangsa Palestina, Afghanistan, dan lainnya. Hal tersebut dicontohkan oleh Noam Chomsky, seorang linguis sekaligus aktivis Yahudi ternama. Ia sejak awal konsisten mengkritisi begitu keras peran Amerika yang berperan ganda ketika menyikapi Israel yang menjajah bangsa Palestina. Pun sama halnya dengan Edward W. Said, seorang Kristen yang gigih membela Palestina dan meyudutkan Amerika, Israel, dan negara arab lainnya yang terdiam saat Palestina dijajah Israel.

Seorang intelektual adalah oposisi kekuasaan bukan akomodasi kekuasaan. Ia berani menyurakan kebenaran meski resikonya adalah pembungkaman, teror, penculikan, dan penjara. Wiji Tukhul, seorang penyair yang diculik dan hingga kini masih misteri keberadaannya adalah seorang intelektual yang patut kita apresiasi. Arif Budiman, Soe Hok Gie, adalah seorang aktivis intelektual yang berani menyuarakan kritiknya kepada rezim kekuasaan saat itu. Budiman Sudjatmiko dan Sri Bintang Pamungkas yang sempat merasakan nikmatnya “penghargaan” penjara saat ia mengkritisi rezim orde baru, dan Amien Rais adalah tokoh-tokoh intelektual kafah yang berani berbicara saat intelektual lain terdiam. Mereka berani mengambil resiko saat intelektual yang lain pasif karena takut tidak dipromosikan jabatannya. Mereka juga berani mengatakan kebenaran dengan segala resikonya.

Penulis buku “Gurita Cikeas”, George Adi Tjondro, adalah contoh nyata saat seorang intelektual mengetahui dan meyakini sebuah kebenaran, ia akan mengungkapkan kebenaran itu dengan segala resiko. Meskipun ia harus berhadapan hukum, gugatan, yang dilakukan penguasa dan kroni-kroninya.

Beranikah anda menjadi intelektual?