Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Reka Yuda Mahardika, S.S., M.Pd.

Artikel Umum

Tidak Haram Menjadi Guru Humoris

Dipublikasikan pada : 26 Juli 2014. Kategori : .

Tidak Haram Menjadi Guru Humoris

 

“Humor adalah jarak terdekat antara dua orang” Victor Borge

Humor adalah sesuatu yang bersifat dapat menimbulkan atau menyebabkan pendengarannya merasa tergelitik perasaan lucunya, sehingga terdorong untuki tertawa. terjadinya hal ini karena sesuatu yang bersifat menggelitik perasaan disebabkan kejutannya, keanehannya, ketidakmasukakalannya, kekontradiksiannya, kenakalannya, dan lain-lain (Darmansyah, 2010).

Seorang guru yang memiliki bakat untuk menyenangkan orang lain, tentu tidak akan merasa kesulitan untuk menjadi guru yang menyenangkan. Misalnya, seorang guru humoris tentu akan lebih disukai siswa daripada guru yang kurang humoris. Dalam konteks ini tentu harus dibedakan antara humor dengan lawak apalagi badut. Menurut penulis, guru idealnya harus humoris, tetapi tentu saja jangan sampai melawak apalagi membadut. Sifat humoris tidak akan menurunkan wibawa guru, justru akan menambah wibawa dan image guru, hingga jangan heran sepanjang hayat guru humoris akan dikenal sebagai seorang guru yang menyenangkan. Bukankah hal tersebut mengasyikan?

Pemikiran lama menyebutkan tidak semua orang terlahir humoris. Humoris atau tidak, itu ditentukan oleh gen. Padahal faktanya tidak demikian. Penelitian terbaru menunjukkan tertawa/sifat humoris bisa dilatih dan dilakukan setiap hari. Ini adalah pendapat dari Lee Bark, ilmuwan dari Loma Linda University (www.terapitertawa.com).

Kadang para guru enggan untuk melontarkan humor dalam ruang kelas. mereka beranggapan kelas bukan tempat untuk bergurau dan berhumor. Jika benar adanya, maka jangan salahkan murid jika mereka tidak dekat dengan pelajaran yang disampaikan mereka tidak akan berminat dan memang tidak ada sesuatu yang perlu membuat mereka tertarik Yunsirno, 2010). Padahal idealnya seorang guru harus mampu menarik perhatian mulai dari siswa barisan terdepan hingga paling belakang, karena guru dapat dianalogikan sebagai aktor dan kelas adalah panggungnya.

Seorang aktor barat, George C. Scott berkata,”Anda harus menjadi tiga orang yang berbeda. Anda harus menjadi manusia seutuhnya. Kemudian Anda harus menjadi karakter yang Anda mainkan, dan yang lebih penting Anda harus mampu  menarik perhatian orang yang duduk di baris ke-10 agar ia terus melihat dan menilai Anda (Yunsirno, 2010)

Dengan menjadi guru humoris, penulis yakin semua siswa meski dalam jumlah yang banyak akan terus mengikuti perkataan Anda dari awal hingga akhir. Seperti para jamaah mengikuti ceramah AA Gym dari awal hingga akhir tanpa merasa bosan karena sifatnya yang humoris, Alm. Zainuddin M.Z., seorang  kyai yang memiliki jutaanmurid di seluruh Indonesia adalah sosok yang juga humoris, Mario Teguh pun demikian, Andrie Wongso juga sama. Larry king (2007), yang disebut-sebut sebagaisalahsatu pembicara terbaik dunia mengatakan, bahwa seorang pembicara haruslah memiliki selera humor, dan tidak keberatan mengolok-ngolok diri sendiri. Sungguh, konvensionalis terbaik sering mengisahkan pengalaman konyol mereka sendiri.

Tokoh-tokoh yang disebutkan di atas adalah tokoh-tokoh terkenal yang menjadi guru di kelasnya masing, yang dikenal sangat humoris, bahkan jenius. Mengapa disebut jenius? Bukankah jenius adalah sebutan bagi seseorang yang secara kuantitif pernah diukur kemampuan otak kirinya dan diberi skor tertentu? Einstein, Habibie, Tomas Alfa Edison adalah tokoh-tokoh yang diakui oleh dunia sebagai sosok jenius. Apakah tokoh-tokoh pembicara yang telah disebutkan di atas dapat dikategorikan sebagai sosok jenius juga?

Amstrong dalam bukunya Awakening Genius in The Classroom mengategorikan bahwa orang yang bersifat humoris termasuk orang jenius, selain itu termasuk jenius juga orang-orang yang memiliki rasa ingin tahu yang besar, jenaka, imaginatif, kreatif, rasa takjub, bijaksana, penuh daya cipta, penuh vitalitas, peka, fleksibel, dan gembira (Yunsirno, 2010).

Menurut riset seorang psikolog Alice M. Isen, Ph.D., dari Cornell University, mereka yang banyak menonton film komedi dan tertawa secara lebih baik menemukan solusi kreatif dalam memecahkan soal-soal ‘puzzle’ (www.terapitertawa.com). Dari hasil penelitian tersebut kita dapat mengambil pelajaran lain, bahwa suasana yang riang, rileks, dan penuh tawa dapat membuat seseorang menjadi lebih kreatif dan cerdas.

Ketika sudah terbukti sifat humoris menjadi sangat dibutuhkan dan bahkan disebut jenius, alasan apa yang dapat dikemukakan bahwa seorang guru harus mendapat stigma menjadi Guru Killer? Jadilah guru jenius dan “sihir”-lah siswa didik kita menjadi jenius pula!