Situs Dosen STKIP Siliwangi Bandung - Reka Yuda Mahardika, S.S., M.Pd.

Artikel Umum

Ya Tuhan, Burung Gereja itu Berterima kasih Kepadaku…

Dipublikasikan pada : 26 Juli 2014. Kategori : .

Jumat pagi 07.00, di kampung halamanku, Kawali, Ciamis, aku menemukan seekor anak burung gereja di rerumputan. Ia terus menerus bersuara “menciak-ciak”, barangkali memanggil ibu atau keluarganya. Suaranya membuat saya yang sedang menikmati udara pagi terenyuh. Sedih. Tadinya sih, ingin membiarkan saja alam bekerja mengurusi anak burung itu. Tetapi saat melihat ada seekor kucing mulai tertarik dan mengendap-ngendap hendak memangsa, kuputuskan mengambil anak burung gereja tersebut.

Kusimpan ia dalam kotak kardus. Sekalian kuberi nama ia Lili. Beberapa menit aku mencari kain bersih, setelah menemukan kusimpan kain itu di kardus. Aku berpikir setidaknya kain tersebut akan tetap membuat Lili hangat meski tentu saja tidak akan sehangat dekapan ibunya.

Lili terus menciak-ciak. Filingku mengatakan Lili lapar. Aku kemudian pergi ke dapur, menumbuk beberapa butir beras lalu kucampu ludah. Soalnya saat itu aku mendengar dari ayahku, memberikan makan bercampur ludah pada hewan dapat membuat hewan tersebut mengingat dan mencintai kita.

Benar saja. Lili lapar. Ia memakan tumbukan beras bercampur ludah itu dengan lahap sekali. Dan, tepat jam 12.00 sebelum pergi ke mesjid aku melihat Lili memejamkan matanya, berhenti berciak. Seperti manusia juga barangkali, Lili mengantuk sehabis makan kekenyangan.

Selepas dari mesjid, aku terus menemani Lili. Aku menyentuhnya, mengelusnya, mengajaknya ngobrol, hingga tak terasa sore pun tiba. Mulai terasa ada kedekatan pribadi antara aku dan Lili. Terbersit saat itu aku akan memelihara Lili saja sampai dia dapat terbang, dan mencari keluarganya sendiri. Tetapi aku mengurungkan niatku saatpukul 16.00, Lili kembali menciak-ciak.

Aku berpikir Lili lapar. Ternyata tidak, ia tidak mau memakan tumbukan beras bercampur ludahku lagi. Lili gelisah. Ada apa ujarku? Samar-samar, aku mendengar di luar rumah suara burung menciak-ciak seolah sedang mencari sesuatu. Mungkinkah itu ibunya, ucapku dalam hati. Fillingku mengatakan aku harus membawa Lili keluar rumah.

Di luar rumah ternyata tidak kulihat satu pun burung gereja. Kuangkat Lili lembut, lalu meletakannya di batang pohon. Kuperhatikan dari jauh berjaga-jaga seandainya ada kucing yang akan memangsanya.

Tanpa diduga, pukul 17.00, saat senja tiba, saat Lili sedang menciak-ciak, datang dua ekor burung gereja menghampirinya. Ya Tuhan, ujarku dalam hati…

Kedua burung gereja tersebut kulihat mengelus-ngelus kepala Lili dengan lembut. Mereka bertiga saling menciak-ciak, seolah-olah itu perjumpaan pertama setelah lama terpisah. Lili mengepak-ngepakkan sayapnya girang. Kedua burung gereja dewasa, yang kukira orangtuanya, juga ikut mengepak-ngepakkan sayapnya.

Pukul 17. 45, saat kutatap Lili, tidak sengaja Lili melirik ke arahku beberapa detik. Hening. Entahlah, apa ini hanya filingku saja, tapi kurasa Lili mengucapkan “terima kasih” kepadaku. Perlahan, orangtuanya terbang dari satu dahan ke dahan lainnya hingga ke dahan tertinggi. Lili mengikutinya. Dan saat sudah berada di dahan tertinggi, kudengar ciak Lili terakhir kalinya, ia pun terbang.

Maha suci Tuhan, ujarku dalam hati. Selamat jalan Lili…